Tari Nini Thowok
Tari Nini Thowok karya dari Bekti Budi Hastuti, diciptakan pada tahun 1973, musik karya Ki Nartosabdho
Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok)
Seorang maestro tari Indonesia yang selalu menirukan perempuan dalam pertunjukan tari tradisional Jawa dan Bali. Karena ia telah belajar tari di beberapa negara, termasuk Indonesia, India, Jepang, dan Spanyol, ia sering menggabungkan gaya dari berbagai budaya dalam tariannya
Lihat Profil SenimanTahun Dibuat
2010
Media
youtube
Jenis Media
video
Sumber
https://www.youtube.com/watch?v=9__dgb11q3Y
Cerita di Balik Karya
Pada suatu malam di Yogyakarta awal tahun 1980-an, ketika embun tipis masih menggantung di atas pepohonan kampus seni, seorang pemuda kurus berwajah jenaka berjalan sendirian melewati pelataran gedung tari. Namanya Didik Hadiprayitno. Kelak dunia mengenalnya sebagai Didik Nini Thowok, maestro tari y...
Baca cerita lengkapTari Nini Thowok
Audio Narasi: Kisah di Balik Karya
Auto-playAudio narasi akan otomatis diputar. Jika tidak, klik tombol play.
Cerita Naratif
Pada suatu malam di Yogyakarta awal tahun 1980-an, ketika embun tipis masih menggantung di atas pepohonan kampus seni, seorang pemuda kurus berwajah jenaka berjalan sendirian melewati pelataran gedung tari. Namanya Didik Hadiprayitno. Kelak dunia mengenalnya sebagai Didik Nini Thowok, maestro tari yang mampu membuat batas antara manusia, boneka, humor, dan roh samar menjadi kabur.
Di bawah cahaya lampu yang kekuningan, Didik berhenti di depan bangku tua. Ia menutup matanya, membiarkan angin malam mengantarkan kembali kenangan masa kecilnya—kenangan tentang Nini Thowong, boneka rakyat Jawa yang dulu dimainkan anak-anak desa untuk memanggil penjaga kampung. Boneka yang hidup bukan karena tali atau mesin, tetapi karena lagu, tanah, dan kepercayaan.
“Apakah mungkin,” pikir Didik, “aku menghidupkan kembali Nini Thowong… lewat tubuhku sendiri?”
Dan di situlah semuanya bermula.
Makna Karya
Karya Nini Thowong Didik Nini Thowok mengandung makna mendalam tentang hubungan manusia dengan tradisi, memori kolektif, dan dunia tak nyata. Ada beberapa lapisan filosofi dalam tari ini:
1. Menghidupkan kembali memori budaya yang hampir punah
Di banyak wilayah Jawa, permainan Nini Thowong mulai hilang. Didik, melalui tariannya, menegaskan pentingnya melestarikan tradisi rakyat (folklore) sebagai identitas budaya.
2. Dialog antara dunia nyata dan dunia gaib
Tarian ini memperlihatkan batas kabur antara dua dunia. Gerakan-gerakan yang tampak “dikendalikan” menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa memandang roh bukan sebagai sesuatu menakutkan, tetapi bagian dari keseharian spiritual.
3. Refleksi tubuh sebagai medium cerita
Didik mengolah tubuhnya hingga menyerupai boneka: kaku namun ekspresif. Ini menjadi simbol bahwa tubuh manusia adalah wadah ingatan budaya, sekaligus sarana untuk menyampaikan nilai-nilai leluhur.
4. Humor sebagai pintu masuk tradisi
Seperti banyak karya Didik lainnya, unsur komedi halus tetap hadir. Humor ini bukan sekadar hiburan, tetapi cara khas budaya Jawa untuk menyampaikan hal-hal serius tanpa menggurui.
Perjalanan Kreatif
Proses kreatif Didik dalam menciptakan Nini Thowong berlangsung melalui beberapa tahap artistik dan riset mendalam:
1. Riset folklor dan ritual tradisional
Didik melakukan penelusuran terhadap berbagai tradisi lokal:
- permainan anak-anak Nini Thowong di pedesaan,
- cara boneka dibuat,
- mantra dan lagu pengiringnya,
- serta ritual pemanggilan “roh penjaga”.
Ia mewawancarai warga desa, sesepuh, hingga dukun Jawa, untuk memahami konteks spiritual dan sosialnya.
2. Eksperimentasi gerak tubuh
Didik melatih gerakan yang meniru boneka:
- pinggang digoyang rendah,
- kepala bergoyang patah-patah,
- tangan menggantung,
- langkah kecil yang tidak stabil.
Ia juga menggunakan teknik make-up dan kostum khas Didik—kadang memakai topeng atau rias dwimuka—untuk memberi efek seolah ada dua kepribadian yang menggerakkan tubuh.
3. Penggabungan musik tradisional
Didik mengadaptasi lagu Nini Thowong versi rakyat, dipadukan dengan musik gamelan dan efek suara yang meningkatkan nuansa magis.
4. Teatrikal sebagai penguat narasi
Pertunjukan dibuat bagaikan adegan ritual yang hidup kembali. Didik memadukan tari, lawakan kecil, ekspresi dramatis, dan adegan menyeramkan, namun tetap berada dalam koridor estetika Jawa.